MIT School Muslimah : 3 Srikandi UX di UI

MIT School Muslimah : 3 Srikandi UX di UI

Hari Jum’at berkah, terhitung puasa ke lima di bulan Ramadhan 1437 H bersamaan hari itu terdapat kegiatan “Psycology meets Technology (How psychology graduates can contribute in improving technology?)” yang diselenggarakan oleh Biro Kewirausahaan BEM Fakultas Psikologi Universitas Indonesia(UI). Sembari menjalani shaum, selaku siswa MIT School Muslimah  tak urung niatan kami untuk ikut serta pada kegiatan tersebut dengan semangat yang berjibaku di dada guna mendapatkan secuil ilmu.

psycho ux ui

Pada event tersebut menghadirkan tiga Srikandi yang siap menghunuskan ilmunya kepada khalayak, sebagai alumni mahasiswi UI yang bergelutpada dunia teknologi digital terkhusus pada wilayah User Experience (UX).

Siapa sih srikandi-srikandinya? Penasaran jadinya,,,

possibility

Srikandi pertama ada Annabelle Wenas sebagai Design Researcher di Traveloka beliau memaparkan peran psikologi terhadap dunia teknologi, pasalnya dalam analogi yang diutarakan masih terdapat kebingungan akan arah karir pada mahasiswa psikologi yang telah usai studinya, untuk itu Annabel mengulas apa saja kontribusi psikologi pada dunia teknologi digital. Menyelami perbandingan antara Design Research dengan UX research, Design Research dan Market Research, dan User Experience itu apa serta Purchasing Experience.

Srikandi kedua yaitu Dhea Sekararum, jabatan yang diemban di Yogrt App sebagai Product Manager. Dhea berbagi pengalaman akan awal mula ketertarikannya dalam mendalami dunia teknologi digital lantaran mengidolakan seseorang yang bergelut dengan data dan mau saja mengikuti instruksi sang idola. Sepak terjang Dhea terhadap UX tidak perlu dipertanyakan lagi, sebab semuanya dimulai dari 0 dan tentunya tidak luput dari ilmu yang telah Dhea pelajari di kampus UI sebagai alumni psikologi.

Dhea bersabda “jikalau ketertarikan itu sudah menjadi nafas, segala bentuk cobaan pasti bisa dilewati”.

Membahas mengenai Intersection, job description pada startup, bagaimana membuat produk menjadi habit, penguatan pembahasan akan pentingnya peran psikologi pada teknologi digital, UX penggunaan dalam produk menyangkut Cognition (persepsi) dan Emotion (emosi), analisa pengguna produk, memberikan treatment pancingan pada produk, bagaimana membuat konsumen kembali menggunakan produk, bagaimana konsumen menggunakan produk.

“Produk sebaiknya simpel dan familiar”, ujar Dhea.

Syahdan,

Srikandi ketiga itu, Qonita Shahab sebagai Product Designer di Traveloka. Mengulas akan pengalamannya sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) UI yang beralih fokus ke ilmu UX. Banyak research yang telah ditanganinya, pernah mengeyam studi di Korea dan meyelesaikan pendidikan PhD-nya di Belanda. Pembahasannya mengenai Software vs Cognitive Psychology, Hardware vs Social Psychology, dan Information Product vs Enviromental Psychology.

Bercakap secara langsung, tebersit ucapan Qonita untuk tidak mengikuti langkahnya mengambil PhD, tak sempat membahas secara gamblang makna tuturnya. Hanya dapat berasumsi, pasalnya mungkin berbeda orientasi akan kemana langkah karir akan bergulir.

UX di UI

Kepada tim penyelenggara kegiatan kami ucapkan terima kasih telah menyediakan wadah untuk bertemu dengan tiga srikandi ini dan suguhan makanan untuk berbuka puasanya. Layaknya peribahasa “tak ada gading yang tak retak” ada sedikit yang perlu dibenahi, yaitu manajemen waktu dimulainya kegiatan agak terundur dari jadwal awalnya.

Terkhusus kepada tim manajemen MIT School, kami haturkan pula terima kasih telah memfasilitasi untuk hadir pada kegiatan ini.

Related posts:

Loading Facebook Comments ...