Belajar Kehidupan Dengan Merantau

Belajar Kehidupan Dengan Merantau

belajar kehidupan dengan merantau

Tak terasa sudah enam bulan lebih kami (khususnya kelas PHP Developer) belajar di MIT School Yogyakarta. Banyak sekali perubahan-perubahan positif yang kami rasakan semenjak kami belajar di sini.

Dari yang awalnya tahu komputer itu cuma Microsoft Office, browser dan Google, bahkan tak tahu apa itu Linux.

Kini setidaknya kami mulai mengenal begitu luasnya dunia IT. Dari yang ibadahnya masih kurang, shalatnya sering telat (atau bahkan bolong-bolong). Kini sudah terbiasa shalat tepat waktu berjamaah ke masjid, belajar agama, sedikit demi sedikit mulai menjalankan sunnah Nabi.

Dari yang dulunya segala sesuatuĀ masih bergantung pada orang tua. Kini semuanya harus diurus sendiri, mulai dari makan, kebersihan diri atau bahkan saat sakit.

Jauh dari orang tua menuntut kami untuk hidup mandiri. Belajar memanage diri karena tidak ada orang tua yang mengatur-atur seperti dulu. Belajar memanage keuangan supaya semua kebutuhan tercukupi.

Jauh dari kampung halaman dan hidup di perantauan yang lebih heterogen, tentunya mengenalkan kami dengan kehidupan yang berbeda. Bertemu dengan orang-orang dari daerah lain yang berbeda-beda.

Perbedaan bahasa, karakter, budaya dan pemikiran memberikan banyak pelajaran hidup yang sangat berharga untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di masa depan.

Hidup di perantauan menyadarkan kami apa artinya rumah dan keluarga. Bagaimana rindunya kami dengan kampung halaman, dengan kehangatan keluarga, dengan tetangga dan kawan kecil.

Hal-hal sederhana yang dulu kami anggap biasa tetapi kini kami sadari hal-hal seperti itu sungguh begitu berarti.

Bulan Ramadhan sebentar lagi, hari raya tak lama lagi. Moment pulang kampung dan bertemu dengan bapak, ibu dan saudara tentunya menjadi sesuatu yang paling kami tunggu sebagai anak rantau.

Ditulis Oleh : Muhammad Imam Syafi’i (Peserta didik MIT School)

 

Related posts:

Loading Facebook Comments ...