Shalat Dhuhur di Masjid Tertua Kota Yogyakarta

Shalat Dhuhur di Masjid Tertua Kota Yogyakarta
masjid agung mataram, masjid tertua kota yogyakarta

Sumber gambar : Google Maps

Selesai belanja di Pasar Kotagede, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Mataram yang terletak kurang lebih 300 meter sebelah selatan pasar. Kebetulan waktu sudah mendekati waktu dhuhur, sehingga kami sekalian shalat dhuhur di sana.

Masjid Agung Mataram atau juga dikenal dengan nama Masjid Kotagede merupakan masjid tertua di Yogyakarta. Masjid ini dibangun pada abad ke-17, tepatnya pada tahun 1640 M. Masjid ini dibangun  pada masa pemerintahan Sultan Agung, Sultan ke-3 kerajaan Mataram Islam yang memerintah dari tahun 1613-1645 M.

Di sebelah kiri jalan menuju area masjid terdapat terdapat dua pohon beringin besar yang dikenal oleh masyarakat dengan nama “ringin sepuh”. Apabila diartikan dalam bahasa Indonesia, ringin sepuh berarti beringin tua.

Disebut demikian karena usianya yang memang sudah ratusan tahun. Lanjut berjalan menuju masjid, kami disambut sebuah gapura berbentuk paduraksa yang bersambung dengan tembok berbentuk huruf L. Sehingga untuk memasuki area masjid, kita harus berbelok ke kanan.

Memasuki pelataran depan masjid, di sebelah kanan terdapat tugu yang tingginya sekitar tiga meter. Di sisi tugu sebelah selatan terpasang jam kuno sebagai penanda waktu shalat.

Tugu ini merupakan sebuah prasasti sebagai pertanda bahwa Pakubuwono X, Raja Kasunanan Surakarta yang membangun masjid ini pada tahap ke dua. Sedangkan di sebelah kiri, kita akan melihat sebuah gapura dengan gaya yang sama dengan gapura utama. Gapura ini merupakan gerbang masuk area makam raja-raja Mataram yang terletak di sebelah selatan masjid.

Sebelum memasuki masjid kita dapat melihat kolam yang mengelilingi masjid. Kolam ini sebagai simbol pensucian diri sebelum memasuki masjid. Tapi kini pada jalan masuk, kolam ditutup papan kayu yang ditata sedemikian rupa sehingga menyerupai jembatan.

Ruangan masjid terbagi menjadi dua, serambi dan ruangan utama. Sedangkan tempat wudhunya terdapat di sisi kanan atau di sebelah utara masjid.

Waktu shalat pun tiba, adzan telah berkumandang, kami segera berwudhu lalu shalat sunnah tahiyatul masjid sambil menunggu iqamat. Setelah muadzin mengumandangkan iqamat, kami bersama jamaah yang lain segera merapatkan shaf dan mendirikan shalat dhuhur dengan khidmat.

Demikian pengalaman pertama kami waktu shalat dhuhur di masjid tertua Kota Yogyakarta.

Ditulis oleh : Muhammad Imam Syafi’i (Peserta didik MIT School)

 

Related posts:

Loading Facebook Comments ...