Tragedi Pompa Air di Asrama MIT School

Tragedi Pompa Air di Asrama MIT School

Seperti hari-hari biasanya, di asrama pagi hari ini (25/07/2017) kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang sedang mandi, nyuci baju, ada juga yang sudah sibuk di depan layar laptop. Sementara beberapa orang yang kebetulan sedang kebagian piket masak sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk kami semua di asrama.

Pukul setengah delapan sarapan sudah siap. Kami pun sarapan bersama-sama. Selesai sarapan, kegiatan belajar mengajar kelas Android dimulai. Sementara yang dari kelas PHP kembali bergelut dengan laptopnya masing-masing untuk mengerjakan tugas.

Kira-kira pukul sepuluh pagi, pompa air menyala dan berbunyi lumayan nyaring seperti tidak mau mengangkat air. Kami menganggap wajar karena sudah tiga hari ini saat awal menyala, pompa air berbunyi lumayan nyaring dan tidak mengangkat air ke tangki penampung sebelum akhirnya airnya keluar dan berbunyi seperti biasa. Saya sendiri mengira hal ini terjadi karena pompa butuh waktu untuk mengangkat air sumur yang permukaannya turun lumayan dalam karena efek kemarau.

Namun kali ini, tidak sampai satu menit menyala pompa air tiba-tiba mati. Karena listrik dalam keadaan menyala, kami pun berinisiatif mengecek switch/pelampung pada tangki penampungan yang kadang-kadang tidak mau turun meskipun air di tangki sudah hampir habis. Tetapi setelah dicek, tidak ada masalah pada switch.

Kami pun beralih mengecek pompa air. Penutup sumur kami buka. Namun ternyata posisi pompa berada di tengah-tengah sumur yang lumayan dalam. Karena keterbatasan alat, niat mengecek pompa air kami urungkan.

Sehabis shalat dhuhur, dua orang berangkat mencari tukang untuk memperbaiki pompa air. Sembari menunggu tukang datang, kami berinisiatif menimba air dari sumur untuk keperluan memasak dan kebutuhan lainnya. Kami membuat timba darurat dengan memanfaatkan ember dan tali tambang jemuran.

Demikian pengalaman kami di asrama MIT School hari ini. Semoga pompa air secepatnya bisa diperbaiki supaya kami bisa beraktivitas dengan normal kembali.

Ditulis oleh Muhammad Imam Syafi’i (Peserta didik MIT School)

Related posts: